STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN
Senin, 18 Januari 2016
Penyuluhan Tentang Kunjungan Kehamilan: SATUAN ACARA PENYULUHAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN
Penyuluhan Tentang Kunjungan Kehamilan: SATUAN ACARA PENYULUHAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN: SATUAN ACARA PENYULUHAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN A. Latar Belakang Kematian ibu merupakan masalah besar bagi negara berkembang...
Me Blog: PENYULUHAN GIZI UNTUK IBU HAMIL
Me Blog: PENYULUHAN GIZI UNTUK IBU HAMIL: PENYULUHAN GIZI UNTUK IBU HAMIL Bahagia sekali ketika dokter menyatakan bahwa akan ada kehidupan di rahim seorang wanita. Untuk mempe...
Sabtu, 14 November 2015
STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN
A.Handayani
13.66.002
IIIA
PROGRAM DIPLOMA III KEBIDANAN
AKADEMI KEBIDANAN MADANI SINJAI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Untuk dapat menilai mutu pelayanan kebidanan diperlukan
alat ukur yang valied dan reliable. Alat ukur ini memiliki berbagai macam
bentuk, slah satunya adalah standar. Masalah mutu akan muncul apabila unsur
masukan, proses, lingkungan serta keluaran menyimpang dari standar.
Untuk memandu para
pelaksana “program menjaga mutu” agar tetap berpedoman pada standar yang telah
ditetapkan perlu disusun protokol( pedoman, petunjuk pelaksana). Adapun
pengertian protokol adalah suatu pernyataan tertulis yang disusun secara
sistimatis dan dapat dipakai sebagai pedoman oleh para pelaksana dalam
mengambil keputusan dan atau dalam melaksanakan pelayanan kebidanan.
B.
RUMUSAN MASALAH
a.
Bagaimana cara menguraikan pernyataan serta
hasil dari standar perawtan bayi baru lahir,penanganan pada 2 jam pertama
setelah persalinan, pelayanan pada ibu dan bayi pada masa nifas dan penanganan
asfiksia neonatorum.
b.
Bagaimana contoh kasus yang barkaitan dengan
keempat standar pelayanan nifas dan kegawat daruratan.
c.
Bagaimana contoh soap atau pendokumentasian
dari keempat standar tersebut.
C.
TUJUAN
a.
Mampu menguraikan pernyataan serta hasil dari
standar perawtan bayi baru lahir,penanganan pada 2 jam pertama setelah
persalinan, pelayanan pada ibu dan bayi pada masa nifas dan penanganan asfiksia
neonatorum.
b.
Dapat memberikan contoh kasus yang barkaitan
dengan keempat standar pelayanan nifas dan kegawat daruratan.
c.
Mampu memberikan contoh soap atau
pendokumentasian dari keempat standar tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
STANDAR 13
PERAWATAN BAYI BARU LAHIR
Tujuan
Menilai kondisi bayi baru
lahir dan membantu dimulainya prnafasan serta mencegah hipotermi, hipoglkemia, dan infeksi.
Ø Pernyataan standar
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan
pernafasan spontan, mencegah asfiksia, menemukan kelainan, dan melakukan
tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau
menangani hipotermi, dan mencegah hipoglikemia dan infeksi.
Ø Hasil
·
Bayi
baru lahir menerima perawatan dengan segera dan tepat.
·
Bayi
baru lahir mendapatkan perawatan yang tepat untuk dapat memulai pernafasan
dengan baik.
·
Penurunan
kejadian hipotermia, asfiksia,
infeksi dan hipoglikemia pada bayi
baru lahir.
·
Penurunan
terjadinya kematian bayi baru lahir.
Prasyarat:
a. Bidan sudah dilatih dengan tepat dan terampil untuk
mendampingi persalinan dan memberikan perawatan bayi baru lahir dengan segera.
b. Bidan sudah terlatih dan terampil untuk :
1) Memeriksa dan menilai bayi baru lahir dengan menggunakan
skor apgar;
2) Menolong bayi untuk memulai terjadinya pernafasan dan
melakukan resusitasi bayi baru lahir;
3)
Mengenal
tanda-tanda hipotermi dan dapat
melakukan tindakan yang tepat untuk mencegah dan menangani hipotermi;
4)
Pencegahan
infeksi pada bayi baru lahir;
5)
Mengenali
tanda-tanda hipoglikemia dan
melakukan penatalaksanaan yang tepat jika hipoglikemia
terjadi.
c. Tersedianya perlengkapan dan peralatan untuk perawatan yang
bersih dan aman bagi bayi baru lahir, seperti air bersih, sabun dan
handuk yang bersih, dua handuk / kain yang bersih (satu untuk mengeringkan
bayi, yang lain untuk menyelimuti bayi), gunting steril / DTT untuk memotong
tali pusat , 2 klem steril / DTT (atau klem)untuk mengikat tali pusat , sarung
tangan bersih / DTT, Thermometer bersih / DTT, bola karet penghisap atau
penghisap Delee yang di DTT, timbang bayi dan pita pengukur yang bersih.
d. Obat salep mata : tetrasiklin 1 % atau eritromesion 0,5 %
e. Kartu ibu, kartu bayi dan buku KIA.
f.
Sistem
rujukan untuk kegawat daruratan bayi baru lahir yang efektif.
Proses
Ø Bidan
Harus :
a. Selalu mencuci tangannya dan menggunakan sarung tangan
bersih/ DTT sebelum menangani bayi baru lahir .
b. Memastikan bahwa suhu ruangan hangat (ruangan harus hangat untuk mencegah hipotermi pada bayi baru lahir).
c. Segera setelah lahir, nilai keadaan bayi, letakkan di perut
ibu, dan segera keringkan bayi dengan handuk bersih yang hangat. Setelah bayi
kering, selimutu bayi termasuk bagian kepalanya dengan handuk baru yang bersih
dan hangat. (Riset menunjukkan bahwa 90 %
bayi baru lahir mengalami perubahan dari kehidupan intrauterine menjadi
ekstauterine dengan pengeringan dan stimulasi. Penghisapan lendir rutin tidak
perlu dan mungkin membahayakan)
d. Segera menilai bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas /
menangis sebelum menit pertama nilai APGAR, jika bayi tidak bernafas atau
menangis spontan, hisap mulut dan hidung bayi secara hati-hati menggunakan bola
karet penghisap Delee yang di DTT.
e. Jika bayi bayi mengalami kesulitan pernafasan walaupun sudah
di lakukan pengeringan, stimulati atau penghisapan lendir dengan hati-hati,
mulai lakukan resusitasi bayi baru lahir untuk menangani asfiksia (lihat
standar 24)
f.
Jika
bayi menangis atau bernafas lakukan pemeriksaan nilai APGAR pada menit pertama
setelah bayi lahir.
g. Minta ibu memegang bayinya. Tali pusat diklem di dua tempat
menggunakan klem steril / DTT, lalu potong di antara dua klem dengan gunting
tajam steril/ DTT. (Ikuti langkah penatalaksanaan aktif kala tiga persalinan,
standar 11).
h. Pasang benang / klem tali pusat.
i.
Bayi
harus tetap diselimuti dengan baik, anjurkan ibu ituk memeluk bayinya den
segera mulai menyusui. (Riset menunjukkan
pemberian ASI dini penting untuk keberhasilan awal pemberian ASI. Kontak kulit
ibu juga merupakan cara yang baik untuk menjaga pengaturan suhu tubuh bayi pada
saat lahir. Pastikan jika bayi tidak di dekap oleh ibunya, selimuti bayi yang
bersih dan hangat . tutupi kepala bayi dengan baik untuk mencegah kehilangan
panas).
j.
Sesudah
5 menit lakukan penilaian terhadap keadaan bayi secara umum dengan menggunakan
skor Apgar.
Tbel 3.1 Skor Apgar
|
Skor
Apgar
|
0
|
1
|
2
|
|
warna
|
Biru
/ pucat
|
Tubuh
merah jambu, ekstremitas kebiruan
|
Seluruh
tubuh merah jambu.
|
|
DJJ
|
Tidak
ada
|
<
100 kali / menit
|
>100
kali / menit
|
|
Refleks
|
Tidak
ada
|
Menyeringai
|
Bersin,batuk
menarik kaki
|
|
Aktivitas
|
Tidak
/ lemas
|
Ekstremitas
sedikit fleksi
|
Gerak
aktif
|
|
Pernafasan
|
Tidak
ada
|
Pernafasan
lemah tidak teratur / menangis lemah
|
Menangis
kuat pernafasan kuat dan teratur
|
Jika
kondisi bayi stabil, lakukan pemeriksaan bayi setelah plasenta lahir dan
kondisi ibu stabil.
k. Periksa tanda vital bayi. Ukur suhunya dengan menggunakan
thermometer yang diletakkan diketiak (
jangan masukkan thermometer ke anus bayi, hal ini merupakan prosedur yang tidak
perlu dan dapat membahayakan bayi). bila suhu bayi kurang dari 360 C atau jika tubuh atau kaki bayi teraba
dingin, maka segera lakukan penghangatan tubuh bayi seperti pada kotak berikut
ini yang berjudul “prosedur penanganan hipotermi” . amati suhu tubuh bayi
setiap jam sampai suhunya normal dan stabil.
l.
Periksa
bayi dari kepala sampai ujung kaki untuk mencari kemungkinan adanya kelainan.
Periksa anus dan daerah kemaluan. Lakukan pemeriksaan ini dengan cepat agar
bayi tidak kedinginan. Ibu hendaknya menyaksikan pemeriksaan tersebut.
m. Timbang bayi dan ukur panjangnya. Lakukan dengan cepat agar
bayi tidak memiliki hipotermi.
n. Tetap selimuti bayi pada saat ditimbang, meletakkan bayi
pada timbangan yang dingin akan menyebabkan kehilangan panas. Berat yang
tercatat kemudian dapat di sesuaikan dengan mengurangi jumlah berat handuk /
kain tersebut.
o. Setelah memeriksa dan mengukur bayi, selimuti dengan baik,
pastikan bahwa kepala Bayi tertutup dan berikan bayi kembali untuk dipeluk ibu.
Hal ini meupakan cara yang sangat baik untuk mencegah hipotermi.
p. Cuci tangan lagi dengan sabun, air dan handuk yang bersih.
Dalam waktu satu jam setelah kelahiran, berikan salep / obat tetes mata pada
mata bayi baru lahir untuk mencegah oftalmia neonaturum: salep mata tetrasiklin
1 %, larutan perak nitrat 1% atau eritromisin 0,5 %. Biarkan obatnya tetap
dimata bayi, jangan dibersihkan salep / tetes mata yang berada di sekitar mata.
q. Jika bayi belum diberi ASI, bantu ibu untuk mulai menyusui.
Riset menunjukkan bahwa memulai pemberian ASI dalam waktu satu jam pertama
setelah satu jam kelahiran adalah
penting untuk keberhasilan awal pemberian ASI. Kolesterum , ASI pertama,
penting karena mengandung zat kekebalan untuk mencegah infeksi dan penyakit
pada bayi baru lahir.
r. Hindari pemberian susu formula pada bayi baru lahir, hal ini
tidak perlu dan mungkin membahayakan.
s. Tunggu 6 jam, atau lebih, setelah kelahiran bayi sebelum
memandikanyya, tunggu lebih lama jika bayi mengalami kesulitan mempertahankan
suhu tubuhnya atau mengalami asfiksia pada saat lahir. Periksa tubuh bayi
sebelum memandikanyya, suhu tubuh bayi baru lahir harus antara 36-370C.
gunakan air hangat untuk memandikan bayi dan pastikan ruangan hangat.memandikan
bayi dengan cepat dan segera keringkan bayi dengan handuk bersih, hangat dan
kering untuk mencegah kehilangan panas tubuh yang berlebihan.
t.
Kenakan
baju yang bersih dan selimiti bayi dengan handuk / kain yang hangat dan bersih.
u. Periksa apakah bayi baru lahir mengeluarkan urine dan
mekonium. Mintalah ibu memperhatikannya bila persalinan berlangsung dirumah.
Bila dalam 24 jam bayi tidak mengeluarkan urine dan mekonium, segera rujuk ke
puskesmas atau rumah sakit.
v. Lakukan pencacatan semua temuan dan perawatan yang diberikan
dengan cermat dan lengkap dalam partograf, kartu ibu dan kartu bayi.
w. Rujuk segera ke puskesmas atau rumah sakit yang tepat jika
di temukan kelainan dari normal.
Hasil :
·
Letakkan
bayi pada dada ibu sehingga terjadi kontak antara keduanya.
·
Sarankan
ibu untuk sering memberikan ASI.
·
Jaga
agar ruangan tetap hangat dan bebas asap.
·
Pastikan
bahwa ibu dan bayi di selimuti dengan baik
·
Berikan
makanan yang hangat untuk ibu
·
Periksa
suhu tubuh bayi setiap jam. (periksa kaki setiap 15 menit, kalau teraba dingin,
periksa suhu tubuh dari bagian ketiak bayi).
·
Jika
ternyata suhu tubuh bayi tidak naik, segera merujuknya ke pusat
rujukan.pertahankan terus kontak kulit ibu bayi dengan cara menyelimuti ibu dan
bayi dengan cara menyelimuti ibu dan bayi dengan menggunakan selimut yang
hangat atau dengan memberikan bayi yang diselimuti dengan baik dalam pelukan
ibu.
Tabel 3.2 Tindakan Yang Tidak Dianjurkan Dan Akibat Yang
Ditimbulkanyya
|
Tindakan
|
Akibat
|
|
·
Menepuk
bokong
|
·
Trauma
dan melukai
|
|
·
Menekan
rongga dada
|
·
Fraktur,
pneumoraks, gawat nafas, kematian
|
|
·
Menekan
paha ke perut bayi
|
·
Ruptura
hati/ limpa, perdarahan
|
|
·
Mendilatasi
sfingterani
|
·
Robek
atau luka pada sfingter
|
|
·
Kompres
dingin / panas
|
·
Hipotermi,
luka bakar
|
|
·
Meniupkan
oksigen atau udara kemuka atau tubuh bayi.
|
·
Hipotermi
|
CONTOH KASUS
PERAWATAN
BAYI BARU LAHIR
NY
“A” Melahirkan di RSUD LANTO Dg. PASEWANG KAB. JENEPONTO pada tanggal
10-09-2015 pukul: 14:30 wita bayi lahir tidak segera menangis, warna kulit
kebiru-biruan / sianosis (ASFIKSIA).
SOAP
SUBJEKTIF
(S)
·
HPHT tanggal 3-12-2014
·
Melahirkan tanggal 10-09-2015 pukul 14:30
wita dengan jenis kelamin perempuan
·
Bayi lahir tidak segera menangis secara
spontan
·
Warna kulit kebiru-biruan/sianosis
·
Bayi belum BAB/BAK
OBJEKTIF (O)
·
TP tanggal 10-09-2015
·
Bayi lahir spontan tanggal 10-09-2015 dengan
jenis kelamin perempuan A/S : 4/6
·
BBL : 3400 Gram
·
PBL : 49 cm
·
L.K : 33 cm
·
L.D : 31 cm
·
L.P : 30 cm
·
LILA : 11 cm
·
Frekuensi jantung : 134x / i
·
Pernapasan : 66x / i
·
Suhu : 370c
·
Warna kulit kebiru-biruan / sianosis
·
Refleks menghisap baik
ANALISA (A)
BCB/SMK dengan
ASFIKSIA
PENATALAKSANAAN
(P)
Tanggal 10-09-2015
pukul 14: 32 wita
·
Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
tindakan dengan sabun dibawah air mengalir; Tangan sudah dicuci.
·
Membebaskan jalan nafas; Jalan nafas telah dibersihkan.
·
Menghangatkan dan mengeringkan tubuh bayi
dengan kain bersih dan kering; Bayi telah
dikeringkan dan dibungkus dengan kain bersih.
·
Mengobservasi
TTV pada bayi;
HR:
134X / i (N: 120-160)
S :
370 (N: 360 C-37,50C)
P :
66X / I (N: 40-60 X / i)
·
Memberikan O2
1 liter / i ; O2 terpasang.
·
Memberikan vit.k dan salep mata; Bayi telah di berikan vit.k dan salep mata.
·
Melakukan ransangan taktil; Telah dilakukan ransangan taktil.
·
Melakukan perawatan tali pusat; Tali pusat telah terbungkus dengan kasa steril.
·
Memberikan HE kepada ibu mengenai perawatan
payudara; Ibu mengerti dan bersedia
melakukan perawatan payudara.
·
Memberikan HE pada ibu tentang personal
hygine; Ibu mengerti dan bersedia
melakukannya.
·
Menganjurkan pada ibu untuk mengkomsumsi
makanan yang bergizi;
Ibu mengerti
dan bersedia melakukanyya.
STANDAR 14
PENANGANAN
PADA DUA JAM PERTAMA SETELAH PERSALINAN
Tujuan
Mempromosikan perawatan ibu dan bayi
yang bersih dan aman selama persalinan kala empat untuk memulihkan
kesehatan ibu dan bayi . Meningkatkan
asuhan sayang ibu dan sayang bayi.Memulai pemberian ASI dalam waktu 1 jam
pertama setelah persalinan dan mendukung terjadinya ikatan batin antara ibu dan
bayinya .
Ø Pernyataan Standar
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya
komplikasi paling sedikit selama 2 jam setelah persalinan , serta melakukan
tindakan yang diperlukan .Di samping itu bidan memberikan penjelasan tentang
hal –hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu dan membantu ibu untuk memulai
pemberian ASI .
Ø Hasil
§ Komplikasi segera dideteksi dan dirujuk
§ Penurunan kejadian infeksi pada ibu dan bayi baru lahir
§ Penurunan kematian akibat perdarahan pasca persalinan primer
§ Pemberian ASI dimulai
dalam 1 jam pertama sesudah persalinan .
Prasyarat
a. Ibu dan bayi dijaga oleh bidan terlatih selama dua jam sesudah
persalinan dan jika mungkin bayi tetap bersama ibu .
b. Bidan terlatih dan terampil dalam memberikan perawatan untuk ibu dan bayi segera setelah persalinan
,termasuk keterampilan pertolongan pertama pada keadaan gawat darurat .
c. Ibu didukung / dianjurkan untuk menyusui dengan ASI dan
memberikan kolostrum .
d. Tersedia alat / perlengkapan , misalnya untuk membersihkan
tangan yaitu air bersih ,sabun dan handuk bersih : handuk / kain bersih untuk
menyelimuti bayi , pembalut wanita yang bersih , pakaian kering dan bersih
utnuk ibu , sarung atau kain kering bersih untuk alas ibu , kain / selimut yang
kering untuk menyelimuti ibu ,sarung tanganDTT , tensimeter air raksa ,
stetoskop dan thermometer.
e. Tersedianya obat- obatan oksitosika , obat lain yang
diperlukan dan tempat penyimpanan yang
memadai .
f.
Adanya
sarana pencatatan : partograf , kartu ibu , kartu bayi , buku KIA
g. Sistem rujukan untuk perawatan kegawatdaruratan obstetri dan
kegawatdaruratan bayi baru lahir yang efektif.
Proses
Bidan harus :
a. Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memberikan
perawatan pada ibu dan bayi baru lahir . Menggunakan sarung tangan bersih pada
saat melakukan kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh.
b. Mendiskusikan semua pealayanan yang diberikan untuk ibu dan
bayi dengan ibu ,suami dan keluarganya
c. Segera setelah bayi lahir , nilai keadaan bayi , letakkan di
perut ibu , dan segera keringkan bayi dengan handuk bersih dan hangat .Setelah
bayi kering , selimuti bayi dengan handuk baru yang bersih dan hangat .Bila
bayi bernafas / menangis , tanpa kesulitan , dukung ibu untuk memeluk bayinya (
lihat standar 13). Jika bayi mengalami kesulitan bernafas , lihat standar 24 .
d. Sangat penting untuk menilai keadaan ibu beberapa kali
selama dua jam pertama setelah persalinan . Berada bersama ibu dan melakukan
setiap pemeriksaan ini , jangan pernah meningglkan ibu sendirian sampai paling
sedikit 2 jam setelah persalinan dan kondisi ibu stabil .Lakukan
penatalaksanaan yang tepat dan persiapan rujukan jika di perlukan sebagai
berikut :
1) Melakukan penilaian dan masase fundus uteri setiap 15 menit
selama satu jam pertama setelah persalinan , kemudian setiap 30 menit selama
satu jam kedua setelah persalinan . Pada saat melakukan masase uterus
,perhatikan berupa banyak darah yang keluar dari vagina . Jika fundus tidak
teraba keras , terus melakukan masase pada daerah fundus agar uterus
berkontraksi . Periksa jumlah perdarahan yang keluar dari vagina . Periksa
perineum ibu apakah membengkak , hemotoma , dan berdarah dari tempat perlukaan
yang sudah dijahit setiap kali memeriksa perdarahan fundus dan vagina .
2) Jika terjadi perdarahan , segera lakukan tindakan sesuai
dengan standar 21. Berbahaya jika terlambat bertindak .
3) Periksa tekanan darah dan nadi ibu setiap 15 menit selama
satu jam pertama setelah persalinan , dan setiap 30 menit selama satu jam kedua
persalinan . ( jika tekanan darah ibu naik , lihat standar 17).
4) Lakukan palpasi kandung kemih ibu setiap 15 menit selama
satu jam pertama setelah persalinan dan kemudian setiap 30 menit selama satu jam
kedua setelah persalinan .Bila kandung kemih penuh dan meregang , mintalah ibu
utnuk b.a.k , jangan memasang kateter kecuali ibu tidak bisa melakukanya
sendiri . (Retensi urine dapat menyebabkan perdarahan uterus ) mintalah ibu
untuk buang air kecil dalam 2 jam pertama sesudah melahirkan .
5) Periksa suhu tubuh ibu beberapa saat setelah persalinan dan
sekali lagi satu jam setelah persalinan . Jika suhu tubuh ibu > 380C segera rujuk ibu kepusat
rujukan terdekat ( jika mugkin mulai berikan IV RL dan berikan ibu 1 gr
amoksilin dan ampisilin per oral ).
e. Secepatnya bantu ibu agar dapat menyusui .( lihat standar 10
dan 13 ) atur posisi bayi agar dapat melekat dan menghisap dengan benar .
(semua ibu membutuhkan pertolongan untuk mengatur posisi bayi , baik untuk ibu
yang baru pertama kali menyusi maupun ibu yang sudah pernah menyusui)
f.
Penggunaan
gurita atau stagen harus ditunda hingga 2 jam setelah melahirkan kontraksi
uterus dan jumlah perdarahan harus dinilai , dan jika ibu mengenakan gurita
atau stagen hal ini sulit dilakukan .
g. Lihat standar 13 untuk “ Perawatan Bayi Baru Lahir “
h. Bila bayi tidak memperlihatkan tanda- tanda kehidupan
setelah dilakukan resusitasi , maka beritahu orang tua bayi apa yang terjadi
.Berikan penjelasan secara sederhana dan jujur . Biarkan mereka melihat atau
memeluk bayi mereka . Berlakulah bijaksana dan penuh perhatian .Biarkan orang tua melakukan
upacara untuk bayi yang meninggal sesuai dengan adat istiadat atau kepercayaan
mereka. Setelah orang tua bayi mulai tenang , bantulah mereka dan perlakuan
bayi dengan baik dan penuh pengertian terhadap kesedihan mereka.
i.
Bantu
ibu membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian . Ingatkan ibu untuk selalu
menjaga kebersihan tubuh dan mengganti kain pembalut secara teratur berikan
penjelasan perubahan-perubahan yang terjadi pasca persalinan .
j.
Catat
semua temuan dan tindakan dengan lengkap dan seksama pada partograf , Kartu Ibu
dan Kartu Bayi .
k. Sebelum meninggalkan ibu , bahaslah semua bahaya potensial
dan tanda –tandanya dengan suami dan keluarga . Bahaya potensial dan
tanda-tandanya :
1) Ibu mengalami
perdarahan berat
2) Mengeluarkan gumpalan
darah
3) Pusing
4) Lemas yang berlebihan
5) Suhu tubuh ibu > 380C ;
6) Suhu tubuh bayi < 360C atau > 37,50C ;
7) Bayi tidak mau menyusu
8) Bayi tidak mengeluarkan urine atau mekonium dalam 24 jam
pertama
l.
Pastikan
bahwa ibu dan keluarganya mengetahui bagaimana dan kapan harus meminta
pertolongan.
m. JANGAN meninggalkan ibu dan bayi sampai mereka dalam keadaan
baik dan semua catatan lengkap .Jika ada hal yang mengkhwatirkan pada ibu atau
jani , lakukan rujukan kepuskesmas atau dirumah sakit .
CONTOH KASUS:
PENANGANAN PADA DUA JAM
PERTAMA SETELAH PERSALINAN
Ny.A
melahirkan di BPS pada tanggal 5 januari 2015 jam 14:00 bidan melakukan rawat gabung antara
ibu dengan bayi dan pemeriksaan bayi
umur 2 jam serta melakukan pendokumentasian dengan soap.
SOAP
SUBJEKTIF
(S)
Keadaan umum baik, tidak
pucat, tidak kedinginan, menangis dengan spontan
OBJEKTIF (O)
1.
Pemeriksaan Umum
a. Keadaan Umum : Tidak
pucat, tidak kedinginan, menangis dengan spontan
b. Kesadaran : Composmentis
c. Tanda – tanda Vital
Nadi :
140 x/menit
Respirasi :
55x/menit
Suhu :
37 ̊C
d. Kulit :
kemerahan, licin
e. Kuku :
merah muda
f.
Kelenjar getah bening / limfe (palpasi leher
atau inguinal ) : tidak terdapat pembesaran.
2.
Pemeriksaan Fisik
a.
Kepala
Rambut : Ada,
bersih
Ubun-ubun : Datar,
tidak ada moulase, tidak terdapat odema
Wajah : Simetris
Mata : Conjungitva
merah muda, sclera putih
Telinga : Simetris,
pendengaran baik, lubang telinga lengkap
Hidung : Simetris, nafasnya teratur, tidak ada secret
Mulut : Tidak
sumbing, gusi berwarna merah muda
b. Leher : Tidak ada
pembesaran kelenjar getah bening maupun
pembesaran limfe,
dan pembesaran vena jugularis.
c.
Dada : Simetris,
tidak terdapat retraksi dinding dada
d.
Payudara :
Simetris,
terdapat 2 putting
Bentuk :
Simetris
Benjolan :
Tidak
ada
Puting susu :
Menonjol
Pengeluaran :
Tidak
ada
Keluhan :
Tidak
ada
e.
Abdomen :
Tidak
ada perdarahan, tali pusat masih, tidak terdapat
benjolan
f.
Anus dan rectum : Terdapat
lubang
g.
Genetalia : Terdapat lubang
vagina dan lubang uretra,
h.
Tulang belakang : Berbentuk lurus dan tidak terdapat spina bifida
i.
Ekstremitas : Gerakan spontan, gerakan aktif, dan jumlah jari lengkap
3. Pemeriksaan Refleks
Moro : (+)
baik
Rooting : (+) baik
Walking : (+) baik
Graphs :
(+)
baik
Sucking : (+) baik
Toninck eck :
(+) baik
Burning : (+) baik
Babinski : (+) baik
4. Antropometri
BB :
3500 gram
PB :
43 cm
LK :
35 cm
LD :
34 cm
Lila :
11 cm
5. Pemeriksaan Penunjang : Tidak ada
6.
Catatan Medik Lainnya
a.
Riwayat prenatal
Anak ke :
1, jumlah saudara hidup 0, jumlah saudara mati 0
Masa kehamilan : 36
minggu
Riwayat ANC ibu :
teratur 4 kali, di bangsal Anggrek, oleh bidan
Imunisasi TT ibu : 2
kali
Kenaikan ibu selama hamil :
8 kg
Keluhan ibu selama hamil :
mual dan muntah
Penyakit ibu selama hamil : tidak ada
c. Lahir tanggal :
05 januari 203 jam: 14:00 WIB
Jenis persalinan : Normal
Penolong kelahiran : Bidan Az-Zahra
Lama kelahiran :
kala I 8 jam = 480 menit
:
kala II 2 jam = 120 menit
Pelaksanaan IMD : Ya, segera setalah lahir 30 menit
Komplikasi :
Ibu :tidak ada
:
Janin :tidak ada
Keadaan bayi baru lahir
BB/PB lahir :
3500 gram / 43 cm
Jenis Kelamin :
Perempuan
Nilai Apgar Score
|
skor
|
0
|
1
|
2
|
Angka
|
|
Apearence color(warna kulit)
|
Pucat Tidak
ada
|
Badan merah
Ekstremitas
Biru
|
Seluruh tubuh kemerahan
|
2
|
|
pulse(hearth rate)(frekuensi jantung)
|
Tidak ada
Lumpuh
Tidak ada
|
Dibawah 100
Sedikit gerak mimik
|
Di atas 100
Menangis
|
2
2
|
|
Grimace (Reaksi terhadap rangsangan)
|
Esktremitas
dalam fleksi
|
batuk / bersin
Gerakan aktif
|
1
2
|
|
|
Activity (Tonus otot)
|
Menangis kuat
|
|||
|
Respiration (usaha nafas)
|
||||
|
Jumlah
|
9
|
|||
Cacat bawaan :
Terdapat
tanda lahir punggung
Resusitasi :
Penghisap
lendir : tidak
:
Ambubag : tidak
:
Masage
jantung : tidak
Pemberian vitamin K : ya, jam 15.00 WIB
Riwayat Imunisasi : TT 1 : vit K
:
TT 2 : Hb 0
Riwayat Pemberian Vit. A : Iya
ANALISA
Bayi Ny.P lahir spontan, cukup bulan sesuai masa kehamilan,
keadaan sehat dan normal .
PENATALAKSANAAN
1. Menjelaskan
cara Menjaga kehangatan bayi ; Ibu sudah mengerti dan akan
menghangatkan bayinya.
2. Menjelaskan
cara memakaikan
pakaian kepada bayi ; Ibu sudah mengerti dan memahami cara memakaikan pakaian terhadap
bayi nya.
3. Menjelaskan dan mengkomunikasikan tanda-tanda bahaya pada bayi ; Ibu
mengerti dan memahami akan tanda-tanda bahaya bayi.
4. Menjelaskan cara dan tekhnik menyusui yang benar ; Ibu
mengerti dan sudah bisa menyusui anak nya dengan benar.
5. Pemberian vit.K 1 jam setelah IMD pada jam 15.00 WIB ; Sudah
di berikan oleh bidan.
6. Menjelaskan
cara perawatan
tali pusat ; Ibu memahami dan akan menerapkannya kepada bayi nya.
7. Memberikan imunisasi HB 0 ; Sudah di berikan oleh bidan.
8. Memberikan tetes / salep mata ; Sudah di berikan oleh bidan.
9. Menjelaskan mengenai Personal hygiene ; Ibu
mengerti dan akan menerapkan pada bayinya .
STANDAR 15
PELAYANAN BAGI IBU DAN BAYI PADA MASA NIFAS
Tujuan
Memberikan
pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan memberikan
penyuluhan ASI eksklusif.
·
Pernyataan standar
Bidan
memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah pada hari ketiga,
minggu ke dua dan minggu keenam setelah persalinan,untuk membantu proses
pemulihan ibu dan bayi melalui pelaksanaan tali pusat yang benar, penemuan
diri, pelaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas;
serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan
perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi
dan KB.
·
Hasil
Ø Komplikasi
pada masa nifas segera dideteksi dan dirujuk pada masa saat yang tepat.
Ø Mendukung
dan mengan-jurkan pemberian ASI eksklusif.
Ø Mendukung
penggunaan cara tradisional yang berguna dan menganjurkan untuk menghindari
kebiasaan yang merugikan.
Ø Menurunkan
kejadian infeksi pada ibu dan bayi.
Ø Masyarakat
semakin menyadari pentingnya keluarga berencana / penjarangan kelahiran.
Ø Meningkatkan
imunisasi pada bayi.
Prasyarat
Ø Agar
persalinan ibu dapat berjalan dengan baik, ibu dan bayi harus mendapatkan
pelayanan pasca persalinan dari bidan terlatih sampai 6 minggu setelah
persalinan, baik di rumah, puskesmas atau Rumah Sakit.
Ø Bidan telah
dilatih dan terampil dalam:
§ Perawatan
nifas termasuk pemeriksaan ibu dan bayi dengan cara yang benar;
§ Membantu ibu
untuk memberikan ASI;
§ Mengetahui
komplikasi yang dapat terjadi pada ibu dan bayi masa nifas;
§ Penyuluhan
dan pelayaanan KB/penjarangan kelahiran,
Ø Bidan dapat
memberikan pelayanan imunisasi atau bekerja sama dengan juru imunisasi di
puskesmas atau fasilitas terdekat.
Ø Tersedia
vaksin, alat suntik, tempat penyimpanan vaksin dan pembuangan benda tajam yang
memadai.
Ø Tersedianya
tablet besi asam folat.
Ø Tersedia
alat/perlengkapan, misalnya untuk membersihkan tangan, yaitu sabun, air bersih,
dan handuk bersih, sarung tangan bersih/ DTT.
Ø Tersedia
kartu pencatatan: Kartu Ibu, Kartu Bayi, Buku KIA.
Ø Sistem
rujukan untuk perawatan komplikasi kegawatdaruratan ibu dan bayi baru lahir
yang berjalan dengan baik.
CONTOH KASUS
PELAYANAN BAGI IBU DAN BAYI PADA MASA NIFAS
SOAP
SUBJEKTIF
(S)
Ini
merupakan kehamilan yang pertama dan tidak pernah keguguran, hpht tanggal 24
oktober 2014, melahirkan tanggal 28 juli pukul. 08.40 wita, ada pengeluaran
darah dari jalan lahir, nyeri pada perineum.
OBJEKTIF (O)
Keadaan
umum ibu baik, kesadaran composmentis, TD 110/70 mmHg, nadi 80 x/I, suhu 36,7oC,
P: 22X/I, konjungtiva merah muda,sclera putih, putting susu terbentuk, bayi
aktif menyusu, kontraksi uterus baik, TFU 2 jrbpst, tampak pengeluaran lochia
rubra, tampak luka jahitan perineum, tidak oedema dan varises pada kedua
tungkai, ekspresi wajah tampak meringis sangat bergerak.
ANALISA
(A)
Diagnosa
: Postpartum hari pertama
Masalah
actual : Nyeri luka perineum
Masalah
potensial : Antisipasi
terjadinya infeksi luka perinem
PENATALAKSANAAN (P)
Ø Pada
kunjungan rumah, sapalah ibu dan suami/keluarganya dengan ramah.
Ø Tanyakan
pada ibu dan suami/keluarganya jika ada masalah atau kekuatiran tentang ibu dan
bayinya.
Ø Cuci tangan
sebelum dan sesudah memeriksa ibu dan bayi.
Ø Pakai sarung
tangan DTT/bersih bila melakukan kontak dengan darah atau cairan tubuh.
Ø Periksa
tanda-tanda vital ibu ( suhu tubuh, nadi dan tekanan darah ). Periksa payudara
ibu, amati bila putting retak, dan tanda-tanda atau gejala-gejala saluran ASI
yang tersumbat atau infeksi payudara. Periksa involusi (pengecian uterus
sekitar 2 cm/hari, selama 8 hari pertama). Periksa lochea, yang pada hari
ketiga seharusnya mulai berkurang dan berwarna coklat, dan pada hari ke 8-10
menjadi sedikit dan berwarna merah muda. Jika ada kelainan segera rujuk. (lihat
daftar bahaya dan tanda-tandanya di akhir standar ini). Jika di curigai sepsis puerpuralis gunakan standar 23. Untuk penanganan perdarahan
pasca persalinan gunakan standar 22.
Ø Tanyakan
apakah ibu meminum tablet sesuai ketentuan (sampai 42 hari setelah melahirkan),
dan apakah persediaanya cukup.
Ø Bila ibu
menderita anemia semasa hamil atau mengalami perdarahan berat selama proses
persalinan, pemeriksaan Hb pada hari ketiga. Nasehati ibu supaya makan makanan
bergizi dan berikan tablet tambahan darah.
Ø Berikan
penyuluhan kepada ibu tentang pentingnya menjaga kebersihan diri, memakai
pembalut bersih, makanan bergizi, istrahat cukup dan cara merawat bayi.
Ø Cucilah
tangan, lalu periksalah bayi. Periksalah tali pusat pada setiap kali kunjungan
(paling sedikit pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam). Tali pusat
harus tetap kering. Ibu perlu di beritahu bahayanya membubuhkan sesuatu pada
tali pusat bayi, misalnya minyak atau bahan lain. Jika ada kemerahan pada tali
pusat, perdarahan atau tercium bau busuk, bayi segera di rujuk.
Ø Perhatikan
kondisi umum bayi, Tanyakan kepada ibu: pemberian AISI, misalnya bayi tidak mau
menyusu, waktu jaga, cara bayi menangis, berapa kali buang air kecil, dan
bentuk fesesnya.
Ø Perhatikan
warna kulit bayi, apakah ada ikterus atau tidak. Ikterus pada hari ketiga post
partum adalah ikterus fisiologis yang tidak memerlukan pengobatan. Namun, bila
ikterus terjadi sesudah hari ke tiga/kapan saja, dan bayi malas untuk menyusu
dan tampak mengantuk mengantuk, maka bayi harus segera di rujuk ke Rumah Sakit.
Ø Bicarakan
pemberian ASI dan bila mungkin perhatikan apakah bayi menyusu dengan baik
(amati apakah ada kesulitan atau masalah).
Ø Beri nasehat
ibu tentang pentingnya pemerian ASI eksklusif sekitar 4 sampai 6 bulan.
Bicarakan bahaya pemberian unsure tambahan (susu formula, air atau makanan
lain) sebelum bayi berumur 6 bulan.
Ø Bicarakan
tentang KB dan kapan senggama dapat dimulai. Sebaiknya al ini di diskusikan
dengan kehadiran suaminya.
Ø Catat dengan
tepat semua yang di temukan.
Ø Jika ada
hl-hal yang tidak normal, segeralah merujuk ibu dan/ atau bayi ke puskesmas
/rumah saki.
STANDAR 24
PENANGANAN ASFIKSIA NEONATORUM
Tujuan
Mengenal dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksiaI neonatorumI,
mengambil tindakan yang tepat dan melakukan pertolongan kegawatdaruratan bayi
baru lahir yang mengalami asfiksia neonatorum.
Pernyataan Standar
Bidan mengenali dengan tepat bayi baru lahir
dengan asfiksia, serta melakukan tindakan secepatnya, memulai resusitasi bayi
baru lahir, mengusahakan bantuan medis yang diperlukan, merujuk bayi baru lahir
dengan tepat, dan memberikan perawatan lanjutan yang tepat.
Hasil
·
Penurunan kematian bayi akibat asfiksia
neonatorum.
·
Penurunan kesakitan akibat asfiksia
neonatorum.
·
Meningkatnya pemanfaatan bidan.
Prasyarat
1.
Bidan sudah dilatih dengan tepat untuk
mendampingi persalian dan memberikan persalinan dan memberikan perawatan bayi
baru lahir dan segera.
2.
Ibu, suami dan keluarganya mencari pelayanan
kebidanan untuk kelahiran bayi mereka.
3.
Bidan terlatih dan terampil untuk:
a.
Memulai pernapasan pada bayi baru lahir.
b.
Menilai pernapasan yang cukup pada bayi baru
lahir dan mengidentifikasi bayi baru lahir yang memerlukan resusitasi;
c.
Menggunakan skor APGAR;
d.
Melakukan resusitasi pada bayi baru lahir.
4.
Tersedia ruang hangat, bersih, dan bebas asap
untuk persalinan.
5.
Adanya perlengkapan dan peralatan untuk
perawatan yang bersih dan aman bagi bayi baru lahir, seperti air bersih, sabun
dan handuk bersih, dua handuk/kain hangat yang bersih (satu untuk mengeringkan
bayi, yang lain untuk menyelimuti bayi), sarung tangan bersih dan DTT,
thermometer bersih/DTT, dan janin.
6.
Tersedia alat resusitasi dalam keadaan baik
termasuk amubag bersih dalam keadaan berfungsi baik, masker DTT, (ukuran 0 dan
1), bola karet penghisap atau penghisap DeLee steril/DTT.
7.
Kartu Ibu, Kartu Bayi dan partograf.
8.
Sistem rujukan untuk perawatan
kegawatdaruratan bayi baru lahir yang efektif.
CONTOH KASUS
PENANGANAN ASFIKSIA NEONATORUM
SUBJEKTIF (S)
Hpht tanggal 23 november
2014, tp tanggal 30 agustus 2015, ini merupakan kehamilan yang pertama
dan tidak pernah keguguran, ibu rajin memeriksakan kehamilannya di puskesmas
dan RS, tidak ada riwayat penyakit selama hamil.
DATA OBJEKTIF (O)
Bayi lahir tanggal 20 agustus 2015 pkl. 15.30 wita,
presentase belakang kepala,lilitan tali pusat 1 kali dengan jenis kelamin
perempuan, BB 2900 gram, keadaan umum bayi baik, TTV dalam batas normal, S:
36,7oC, P : 48 x/I, DJA : 148 X/I, refleks menghisap (+), refleks
menelan (+), bayi lahir tidak segera menangis, ekstremitas biru, A/S: 6/7, umur
kehamilan 39 minggu 4 hari.
ANALISA
(A)
BCB/SMK/PBK
dengan asfiksia.
PENATALAKSANAAN (P)
1.
Selalu mencuci tangan dan gunakan sarung
tangan bersih/DTT sebelum menangani bayi baru lahir.
2.
langkah pada standar 13 untuk perawatan
segera setelah bayi baru lahir.
3.
Selalu waspada untuk melakukan resusitasi
bayi baru lahir pada setiap kelahiran bayi. Siapkan semua peralatan yang di
perlukan dalam keadaan bersih, tersedia dan berfungsi dengan baik.
4.
Segera setelah bayi baru lahir, nilai keadaan
bayi, letakkan di perut ibu dan segera
keringkan bayi dengan handuk bersih yang hangat. Setelah bayi kering, selimuti
bayi termasuk bagian kepalanya dengan handuk baru yang bersih dan hangat.
5.
Nilai bayi dengan cepat untuk memastikan
bahwa bayi bernafas/menangis sebelum
nilai APGAR, jika bayi tidak menangis dengan keras, bernafas dengan lemah atau
bernafas dengan cepat dan dangkal, pucat atau biru dan/atau lemas.
a.
Baringkan terlentang dengan benar pada
permukaan yang datar, kepala sedikit di tengadahkan agar jalan nafas terbuka.
Bayi harus di selimuti untuk mencegah hiipotermi pada bayi baru lahir.
b.
Hisap mulut dan kemudian hidung bayi dengan
lembut denagn bola penghisap DTT atau penghisap DeLee DTT/steril. (jangan
memasukkan alat penghisap terlalu dalam pada kerongkongan bayi. Penghisapan
yang terlalu dalam akan menyebabkan bradikardi, denyut jantung yang tidak
teratur atau spasme pada laring/tenggorokan bayi).
c.
Berikan stimulasi taktil dengan lembut pada
bayi (gosok punggung bayi, atau meneput dengan lembut atau menyentil kaki bayi,
keduanya aman dan efektif untuk menstimulasi bayi).
d.
Nilai ulang keadaan bayi. Jika bayi mulai
menangis atau bernapas dengan normal, tidak di perlukan tindakan lanjutan
dengan perawatan bagi bayi baru lahir yang normal.
e.
Jika bayi tetap tidak bernapas dengan normal
(40-60 kali permenit) atau menangis, teruskan dengan ventilasi.
6.
Melakukan ventilasi pada bayi baru lahir
sebagai berikut.
a.
Letakkan bayi di permukaan yang datar, di
selimuti dengan baik.
b.
Periksa kembali posisi bayi baru lahir.
Kepala harus sedikit di tengadahkan .
c.
Pilih masker yang ukurannya sesuai (no.0
untuk bayi yang kecil/ no. 1 untuk bayi yang lahir cukup bulan). Gunakan ambu
bag dan masker atau sungkup.
d.
Pasang masker dan periksa perlekatannya. Pada
saat di pasang di muka bayi, masker harus menutupi dagu, mulut dan hidung.
e.
Letakkan wajah bayi dan masker.
f.
Remas kantung ambu/ bernafaslash kedalam
sungkup.
g.
Periksa perlekatannya dengan cara ventilasi
dua kali dan amati apakah dadanya mengembang. Jika dada bayi mengembang mulai
ventilasi dengan kecepatan 40 sampai 60 kali/ menit.
h.
Jika dada bayi tidak mengembang:
·
Perbaiki posisi bayi dan tengadahkan kepala
lebih jauh.
·
Periksa hidung dan mulut apakah ada darah,
mucus atau cairan ketuban, lakukan penghisapan jika perlu.
·
Remas kantu ambu lebih keras untuk
meningkatkan tekanan ventilasi.
i.
Ventilasi bayi selama 1 menit, lalu hentikan,
nilai dengan cepat apakah bayi bernafas dengan spontan ( 30-60kali/menit) dan
tidak ada pelekukan dada atau dengkuran, tidak diperlukan resusitasi lebih
lanjut. Teruskan dengan langkah awal perawatan bayi baru lahir.
j.
Jika bayi belum bernafas, atau pernafasannya
lemah, teruskan ventilasi. Baah bayi ke rumah sakit atau puskesmas. Teruskan ventilasi bayi selama perjalanan.
k.
Jika bayi mulai menangis, hentikan ventilasi,
amati bayi selama 5 menit. Jika pernapasan sesuai batas normal teruskan dengan
langkah awal perawatan bayi baru lahir.
l.
Jika pernapasan bayi kurang dari 30
kali/menit, teruskan ventilasi dan bawah ke tempat rujukan.
m. Jika terjadi pelekukan dada yang sangat dalam, ventilasi dengan oksigen
jika mungkin. Segera bawah bayi ke tempat rujukan, teruskan ventilasi.
7.
Lanjutkan ventilasi sampai tiba di tempat
rujukan, atau sampai keadaan bayi membaik.
8.
Kompresi dada:
a.
Jika memungkinkan, dua tenaga kesehatan
terampil diperlukan untuk melakukan ventilasi dan kompresi dada.
b.
Kebanyakan bayi akan membaik hanya dengan
ventilasi
c.
Jika ada dua tenaga kesehatan terampil,maka
dapat melakkan kompresi dada dengan kecepatan 3 kompresi berbanding 1
ventilasi.
d.
Harus berhati-hati saat melakukan kompresi
dada, tulang rusuk bayi masih peka dan mudah pata, jantung dan paru-parunya
mudah terluka.
e.
Lakukan tekanan pada jantung, dengan cara
meletakkan kedua jari tepat di bawah garis putting bayi, di tengah dada. Dengan
jari-jari lurus, tekan dada sedalam 1-1,5 cm.
9.
Setelah bayi bernafas normal, periksa suhu.
Jika di bawah 36.5̊C, atau punggung sangat dingin, lakukan penghangatan yang
memadai, ikuti standar 13.
10. Perhatikan warna kulit bayi, pernapasan, dan nadi bayi selama 2 jam. Ukur
suhu tubuh bayi setiap jam hingga normal (36,5̊C-37.5̊C).
11. Jika kondisinya memburuk, rujuk ke fasilitas rujukan terdekat, dengan tetap
melakukan penghangatan.
12. Pastikan pemantauan yang sering pada dada bayi selama 24 jam selanjutnya.
Jika tanda- tanda kesulitan bernafas kembali terjadi, persiapkan bayi untuk
segera dibawah ke rumah sakit.
13. Ajarkan pada ibu atau suami tentang bahaya dan tanda-tandanya pada bayi
baru lahir. Anjurkan untuk memperhatikan bayinya dengan baik.
14. Catat dengan seksama semua perawatan yang diberikan.
Langganan:
Komentar (Atom)