Sabtu, 14 November 2015

STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN

A.Handayani
13.66.002
IIIA

PROGRAM DIPLOMA III KEBIDANAN
AKADEMI KEBIDANAN MADANI SINJAI

BAB I
 PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
Untuk dapat menilai mutu pelayanan kebidanan diperlukan alat ukur yang valied dan reliable. Alat ukur ini memiliki berbagai macam bentuk, slah satunya adalah standar. Masalah mutu akan muncul apabila unsur masukan, proses, lingkungan serta keluaran menyimpang dari standar.
            Untuk memandu para pelaksana “program menjaga mutu” agar tetap berpedoman pada standar yang telah ditetapkan perlu disusun protokol( pedoman, petunjuk pelaksana). Adapun pengertian protokol adalah suatu pernyataan tertulis yang disusun secara sistimatis dan dapat dipakai sebagai pedoman oleh para pelaksana dalam mengambil keputusan dan atau dalam melaksanakan pelayanan kebidanan.
B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Bagaimana cara menguraikan pernyataan serta hasil dari standar perawtan bayi baru lahir,penanganan pada 2 jam pertama setelah persalinan, pelayanan pada ibu dan bayi pada masa nifas dan penanganan asfiksia neonatorum.
b.      Bagaimana contoh kasus yang barkaitan dengan keempat standar pelayanan nifas dan kegawat daruratan.
c.       Bagaimana contoh soap atau pendokumentasian dari keempat standar tersebut.
C.      TUJUAN
a.       Mampu menguraikan pernyataan serta hasil dari standar perawtan bayi baru lahir,penanganan pada 2 jam pertama setelah persalinan, pelayanan pada ibu dan bayi pada masa nifas dan penanganan asfiksia neonatorum.
b.      Dapat memberikan contoh kasus yang barkaitan dengan keempat standar pelayanan nifas dan kegawat daruratan.
c.       Mampu memberikan contoh soap atau pendokumentasian dari keempat standar tersebut.




BAB II
PEMBAHASAN
STANDAR PELAYANAN NIFAS (STANDAR 13,14,15 DAN 24)

STANDAR 13
PERAWATAN BAYI BARU LAHIR
Tujuan
Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya prnafasan serta mencegah hipotermi, hipoglkemia, dan infeksi.
Ø  Pernyataan standar
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan, mencegah asfiksia, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermi, dan mencegah hipoglikemia dan infeksi.

Ø  Hasil
·         Bayi baru lahir menerima perawatan dengan segera dan tepat.
·         Bayi baru lahir mendapatkan perawatan yang tepat untuk dapat memulai pernafasan dengan baik.
·         Penurunan kejadian hipotermia, asfiksia, infeksi dan hipoglikemia pada bayi baru lahir.
·         Penurunan terjadinya kematian bayi baru lahir.


Prasyarat:
a.       Bidan sudah dilatih dengan tepat dan terampil untuk mendampingi persalinan dan memberikan perawatan bayi baru lahir dengan segera.
b.      Bidan sudah terlatih dan terampil untuk :
1)     Memeriksa dan menilai bayi baru lahir dengan menggunakan skor apgar;
2)     Menolong bayi untuk memulai terjadinya pernafasan dan melakukan resusitasi bayi baru lahir;
3)     Mengenal tanda-tanda hipotermi dan dapat melakukan tindakan yang tepat untuk mencegah dan menangani hipotermi;
4)     Pencegahan infeksi pada bayi baru lahir;
5)     Mengenali tanda-tanda hipoglikemia dan melakukan penatalaksanaan yang tepat jika hipoglikemia terjadi.
c.       Tersedianya perlengkapan dan peralatan untuk perawatan yang bersih dan aman bagi bayi baru lahir, seperti air bersih, sabun dan handuk yang bersih, dua handuk / kain yang bersih (satu untuk mengeringkan bayi, yang lain untuk menyelimuti bayi), gunting steril / DTT untuk memotong tali pusat , 2 klem steril / DTT (atau klem)untuk mengikat tali pusat , sarung tangan bersih / DTT, Thermometer bersih / DTT, bola karet penghisap atau penghisap Delee yang di DTT, timbang bayi dan pita pengukur yang bersih.
d.      Obat salep mata : tetrasiklin 1 % atau eritromesion 0,5 %
e.       Kartu ibu, kartu bayi dan buku KIA.
f.        Sistem rujukan untuk kegawat daruratan bayi baru lahir yang efektif.


Proses
Ø  Bidan Harus :
a.       Selalu mencuci tangannya dan menggunakan sarung tangan bersih/ DTT sebelum menangani bayi baru lahir .
b.      Memastikan bahwa suhu ruangan hangat (ruangan harus hangat untuk mencegah hipotermi pada bayi baru lahir).
c.       Segera setelah lahir, nilai keadaan bayi, letakkan di perut ibu, dan segera keringkan bayi dengan handuk bersih yang hangat. Setelah bayi kering, selimutu bayi termasuk bagian kepalanya dengan handuk baru yang bersih dan hangat. (Riset menunjukkan bahwa 90 % bayi baru lahir mengalami perubahan dari kehidupan intrauterine menjadi ekstauterine dengan pengeringan dan stimulasi. Penghisapan lendir rutin tidak perlu dan mungkin membahayakan)
d.      Segera menilai bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas / menangis sebelum menit pertama nilai APGAR, jika bayi tidak bernafas atau menangis spontan, hisap mulut dan hidung bayi secara hati-hati menggunakan bola karet penghisap Delee yang di DTT.
e.       Jika bayi bayi mengalami kesulitan pernafasan walaupun sudah di lakukan pengeringan, stimulati atau penghisapan lendir dengan hati-hati, mulai lakukan resusitasi bayi baru lahir untuk menangani asfiksia (lihat standar 24)
f.        Jika bayi menangis atau bernafas lakukan pemeriksaan nilai APGAR pada menit pertama setelah bayi lahir.
g.       Minta ibu memegang bayinya. Tali pusat diklem di dua tempat menggunakan klem steril / DTT, lalu potong di antara dua klem dengan gunting tajam steril/ DTT. (Ikuti langkah penatalaksanaan aktif kala tiga persalinan, standar 11).
h.      Pasang benang / klem tali pusat.
i.         Bayi harus tetap diselimuti dengan baik, anjurkan ibu ituk memeluk bayinya den segera mulai menyusui. (Riset menunjukkan pemberian ASI dini penting untuk keberhasilan awal pemberian ASI. Kontak kulit ibu juga merupakan cara yang baik untuk menjaga pengaturan suhu tubuh bayi pada saat lahir. Pastikan jika bayi tidak di dekap oleh ibunya, selimuti bayi yang bersih dan hangat . tutupi kepala bayi dengan baik untuk mencegah kehilangan panas).
j.         Sesudah 5 menit lakukan penilaian terhadap keadaan bayi secara umum dengan menggunakan skor Apgar.

Tbel 3.1 Skor Apgar
Skor Apgar
0
1
2
warna
Biru / pucat
Tubuh merah jambu, ekstremitas kebiruan
Seluruh tubuh merah jambu.
DJJ
Tidak ada
< 100 kali / menit
>100 kali / menit
Refleks
Tidak ada
Menyeringai
Bersin,batuk menarik kaki
Aktivitas
Tidak / lemas
Ekstremitas sedikit fleksi
Gerak aktif
Pernafasan
Tidak ada
Pernafasan lemah tidak teratur / menangis lemah
Menangis kuat pernafasan kuat dan teratur
      Jika kondisi bayi stabil, lakukan pemeriksaan bayi setelah plasenta lahir dan kondisi ibu stabil.
k.       Periksa tanda vital bayi. Ukur suhunya dengan menggunakan thermometer yang diletakkan diketiak ( jangan masukkan thermometer ke anus bayi, hal ini merupakan prosedur yang tidak perlu dan dapat membahayakan bayi). bila suhu bayi kurang dari 360      C atau jika tubuh atau kaki bayi teraba dingin, maka segera lakukan penghangatan tubuh bayi seperti pada kotak berikut ini yang berjudul “prosedur penanganan hipotermi” . amati suhu tubuh bayi setiap jam sampai suhunya normal dan stabil.
l.         Periksa bayi dari kepala sampai ujung kaki untuk mencari kemungkinan adanya kelainan. Periksa anus dan daerah kemaluan. Lakukan pemeriksaan ini dengan cepat agar bayi tidak kedinginan. Ibu hendaknya menyaksikan pemeriksaan tersebut.
m.    Timbang bayi dan ukur panjangnya. Lakukan dengan cepat agar bayi tidak memiliki hipotermi.
n.      Tetap selimuti bayi pada saat ditimbang, meletakkan bayi pada timbangan yang dingin akan menyebabkan kehilangan panas. Berat yang tercatat kemudian dapat di sesuaikan dengan mengurangi jumlah berat handuk / kain tersebut.
o.      Setelah memeriksa dan mengukur bayi, selimuti dengan baik, pastikan bahwa kepala Bayi tertutup dan berikan bayi kembali untuk dipeluk ibu. Hal ini meupakan cara yang sangat baik untuk mencegah hipotermi.
p.      Cuci tangan lagi dengan sabun, air dan handuk yang bersih. Dalam waktu satu jam setelah kelahiran, berikan salep / obat tetes mata pada mata bayi baru lahir untuk mencegah oftalmia neonaturum: salep mata tetrasiklin 1 %, larutan perak nitrat 1% atau eritromisin 0,5 %. Biarkan obatnya tetap dimata bayi, jangan dibersihkan salep / tetes mata yang berada di sekitar mata.
q.      Jika bayi belum diberi ASI, bantu ibu untuk mulai menyusui. Riset menunjukkan bahwa memulai pemberian ASI dalam waktu satu jam pertama setelah satu jam kelahiran  adalah penting untuk keberhasilan awal pemberian ASI. Kolesterum , ASI pertama, penting karena mengandung zat kekebalan untuk mencegah infeksi dan penyakit pada bayi baru lahir.
r.       Hindari pemberian susu formula pada bayi baru lahir, hal ini tidak perlu dan mungkin membahayakan.
s.       Tunggu 6 jam, atau lebih, setelah kelahiran bayi sebelum memandikanyya, tunggu lebih lama jika bayi mengalami kesulitan mempertahankan suhu tubuhnya atau mengalami asfiksia pada saat lahir. Periksa tubuh bayi sebelum memandikanyya, suhu tubuh bayi baru lahir harus antara 36-370C. gunakan air hangat untuk memandikan bayi dan pastikan ruangan hangat.memandikan bayi dengan cepat dan segera keringkan bayi dengan handuk bersih, hangat dan kering untuk mencegah kehilangan panas tubuh yang berlebihan.
t.        Kenakan baju yang bersih dan selimiti bayi dengan handuk / kain yang hangat dan bersih.
u.      Periksa apakah bayi baru lahir mengeluarkan urine dan mekonium. Mintalah ibu memperhatikannya bila persalinan berlangsung dirumah. Bila dalam 24 jam bayi tidak mengeluarkan urine dan mekonium, segera rujuk ke puskesmas atau rumah sakit.
v.       Lakukan pencacatan semua temuan dan perawatan yang diberikan dengan cermat dan lengkap dalam partograf, kartu ibu dan kartu bayi.
w.     Rujuk segera ke puskesmas atau rumah sakit yang tepat jika di temukan kelainan dari normal.
Hasil :
·         Letakkan bayi pada dada ibu sehingga terjadi kontak antara keduanya.
·         Sarankan ibu untuk sering memberikan ASI.
·         Jaga agar ruangan tetap hangat dan bebas asap.
·         Pastikan bahwa ibu dan bayi di selimuti dengan baik
·         Berikan makanan yang hangat untuk ibu
·         Periksa suhu tubuh bayi setiap jam. (periksa kaki setiap 15 menit, kalau teraba dingin, periksa suhu tubuh dari bagian ketiak bayi).
·         Jika ternyata suhu tubuh bayi tidak naik, segera merujuknya ke pusat rujukan.pertahankan terus kontak kulit ibu bayi dengan cara menyelimuti ibu dan bayi dengan cara menyelimuti ibu dan bayi dengan menggunakan selimut yang hangat atau dengan memberikan bayi yang diselimuti dengan baik dalam pelukan ibu.
Tabel 3.2 Tindakan Yang Tidak Dianjurkan Dan Akibat Yang Ditimbulkanyya
Tindakan
Akibat
·         Menepuk bokong
·         Trauma dan melukai
·         Menekan rongga dada
·         Fraktur, pneumoraks, gawat nafas, kematian
·         Menekan paha ke perut bayi
·         Ruptura hati/ limpa, perdarahan
·         Mendilatasi sfingterani
·         Robek atau luka pada sfingter
·         Kompres dingin / panas
·         Hipotermi, luka bakar
·         Meniupkan oksigen atau udara kemuka atau tubuh bayi.
·         Hipotermi


CONTOH KASUS
PERAWATAN BAYI BARU LAHIR
NY “A” Melahirkan di RSUD LANTO Dg. PASEWANG KAB. JENEPONTO pada tanggal 10-09-2015 pukul: 14:30 wita bayi lahir tidak segera menangis, warna kulit kebiru-biruan / sianosis (ASFIKSIA).
SOAP
SUBJEKTIF (S)
·         HPHT tanggal 3-12-2014
·         Melahirkan tanggal 10-09-2015 pukul 14:30 wita dengan jenis kelamin perempuan
·         Bayi lahir tidak segera menangis secara spontan
·         Warna kulit kebiru-biruan/sianosis
·         Bayi belum BAB/BAK

OBJEKTIF (O)
·         TP tanggal 10-09-2015
·         Bayi lahir spontan tanggal 10-09-2015 dengan jenis kelamin perempuan A/S : 4/6
·         BBL : 3400 Gram
·         PBL : 49 cm
·         L.K : 33 cm
·         L.D : 31 cm
·         L.P : 30 cm
·         LILA : 11 cm
·         Frekuensi jantung  : 134x / i
·         Pernapasan : 66x / i
·         Suhu : 370c
·         Warna kulit kebiru-biruan / sianosis
·         Refleks menghisap baik
ANALISA (A)
            BCB/SMK dengan ASFIKSIA
PENATALAKSANAAN (P)
            Tanggal 10-09-2015 pukul 14: 32 wita
·         Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan dengan sabun dibawah air mengalir; Tangan sudah dicuci.
·         Membebaskan jalan nafas; Jalan nafas telah dibersihkan.
·         Menghangatkan dan mengeringkan tubuh bayi dengan kain bersih dan kering; Bayi telah dikeringkan dan dibungkus dengan kain bersih.
·         Mengobservasi  TTV pada bayi;
HR:  134X / i (N: 120-160)
S   : 370          (N: 360 C-37,50C)
P   : 66X / I    (N: 40-60 X / i)
·         Memberikan O2  1 liter / i ; O2 terpasang.
·         Memberikan vit.k dan salep mata; Bayi telah di berikan vit.k dan salep mata.
·         Melakukan ransangan taktil; Telah dilakukan ransangan taktil.
·         Melakukan perawatan tali pusat; Tali pusat telah terbungkus dengan kasa steril.
·         Memberikan HE kepada ibu mengenai perawatan payudara; Ibu mengerti dan bersedia melakukan  perawatan payudara.
·         Memberikan HE pada ibu tentang personal hygine; Ibu mengerti dan bersedia melakukannya.
·         Menganjurkan pada ibu untuk mengkomsumsi makanan yang bergizi;
Ibu mengerti  dan bersedia melakukanyya.
STANDAR 14
PENANGANAN PADA DUA JAM PERTAMA SETELAH PERSALINAN
Tujuan
Mempromosikan perawatan ibu dan bayi yang bersih dan aman selama persalinan kala empat untuk memulihkan kesehatan  ibu dan bayi . Meningkatkan asuhan sayang ibu dan sayang bayi.Memulai pemberian ASI dalam waktu 1 jam pertama setelah persalinan dan mendukung terjadinya ikatan batin antara ibu dan bayinya .
Ø  Pernyataan Standar
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi paling sedikit selama 2 jam setelah persalinan , serta melakukan tindakan yang diperlukan .Di samping itu bidan memberikan penjelasan tentang hal –hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI .
Ø  Hasil
§  Komplikasi segera dideteksi dan dirujuk
§  Penurunan kejadian infeksi pada ibu dan bayi baru lahir
§  Penurunan kematian akibat perdarahan pasca persalinan primer
§  Pemberian  ASI dimulai dalam 1 jam pertama sesudah persalinan .

Prasyarat
a.       Ibu dan bayi dijaga oleh bidan terlatih selama dua jam sesudah persalinan dan jika mungkin bayi tetap bersama ibu .
b.      Bidan terlatih dan terampil dalam memberikan perawatan  untuk ibu dan bayi segera setelah persalinan ,termasuk keterampilan pertolongan pertama pada keadaan gawat darurat .
c.       Ibu didukung / dianjurkan untuk menyusui dengan ASI dan memberikan kolostrum .
d.      Tersedia alat / perlengkapan , misalnya untuk membersihkan tangan yaitu air bersih ,sabun dan handuk bersih : handuk / kain bersih untuk menyelimuti bayi , pembalut wanita yang bersih , pakaian kering dan bersih utnuk ibu , sarung atau kain kering bersih untuk alas ibu , kain / selimut yang kering untuk menyelimuti ibu ,sarung tanganDTT , tensimeter air raksa , stetoskop dan thermometer.
e.       Tersedianya obat- obatan oksitosika , obat lain yang diperlukan dan tempat penyimpanan  yang memadai .
f.        Adanya sarana pencatatan : partograf , kartu ibu , kartu bayi , buku KIA
g.       Sistem rujukan untuk perawatan kegawatdaruratan obstetri dan kegawatdaruratan bayi baru lahir yang efektif.
Proses
Bidan harus :
a.       Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memberikan perawatan pada ibu dan bayi baru lahir . Menggunakan sarung tangan bersih pada saat melakukan kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh.
b.      Mendiskusikan semua pealayanan yang diberikan untuk ibu dan bayi dengan ibu ,suami dan keluarganya
c.       Segera setelah bayi lahir , nilai keadaan bayi , letakkan di perut ibu , dan segera keringkan bayi dengan handuk bersih dan hangat .Setelah bayi kering , selimuti bayi dengan handuk baru yang bersih dan hangat .Bila bayi bernafas / menangis , tanpa kesulitan , dukung ibu untuk memeluk bayinya ( lihat standar 13). Jika bayi mengalami kesulitan bernafas , lihat standar 24 .
d.      Sangat penting untuk menilai keadaan ibu beberapa kali selama dua jam pertama setelah persalinan . Berada bersama ibu dan melakukan setiap pemeriksaan ini , jangan pernah meningglkan ibu sendirian sampai paling sedikit 2 jam setelah persalinan dan kondisi ibu stabil .Lakukan penatalaksanaan yang tepat dan persiapan rujukan jika di perlukan sebagai berikut :
1)     Melakukan penilaian dan masase fundus uteri setiap 15 menit selama satu jam pertama setelah persalinan , kemudian setiap 30 menit selama satu jam kedua setelah persalinan . Pada saat melakukan masase uterus ,perhatikan berupa banyak darah yang keluar dari vagina . Jika fundus tidak teraba keras , terus melakukan masase pada daerah fundus agar uterus berkontraksi . Periksa jumlah perdarahan yang keluar dari vagina . Periksa perineum ibu apakah membengkak , hemotoma , dan berdarah dari tempat perlukaan yang sudah dijahit setiap kali memeriksa perdarahan fundus dan vagina .
2)     Jika terjadi perdarahan , segera lakukan tindakan sesuai dengan standar 21. Berbahaya jika terlambat bertindak .
3)     Periksa tekanan darah dan nadi ibu setiap 15 menit selama satu jam pertama setelah persalinan , dan setiap 30 menit selama satu jam kedua persalinan . ( jika tekanan darah ibu naik , lihat standar 17).
4)     Lakukan palpasi kandung kemih ibu setiap 15 menit selama satu jam pertama setelah persalinan dan kemudian setiap 30 menit selama satu jam kedua setelah persalinan .Bila kandung kemih penuh dan meregang , mintalah ibu utnuk b.a.k , jangan memasang kateter kecuali ibu tidak bisa melakukanya sendiri . (Retensi urine dapat menyebabkan perdarahan uterus ) mintalah ibu untuk buang air kecil dalam 2 jam pertama sesudah melahirkan .
5)     Periksa suhu tubuh ibu beberapa saat setelah persalinan dan sekali lagi satu jam setelah persalinan . Jika suhu tubuh ibu  > 380C segera rujuk ibu kepusat rujukan terdekat ( jika mugkin mulai berikan IV RL dan berikan ibu 1 gr amoksilin dan ampisilin per oral ).
e.       Secepatnya bantu ibu agar dapat menyusui .( lihat standar 10 dan 13 ) atur posisi bayi agar dapat melekat dan menghisap dengan benar . (semua ibu membutuhkan pertolongan untuk mengatur posisi bayi , baik untuk ibu yang baru pertama kali menyusi maupun ibu yang sudah pernah menyusui)
f.        Penggunaan gurita atau stagen harus ditunda hingga 2 jam setelah melahirkan kontraksi uterus dan jumlah perdarahan harus dinilai , dan jika ibu mengenakan gurita atau stagen hal ini sulit dilakukan .
g.       Lihat standar 13 untuk “ Perawatan Bayi Baru Lahir “
h.      Bila bayi tidak memperlihatkan tanda- tanda kehidupan setelah dilakukan resusitasi , maka beritahu orang tua bayi apa yang terjadi .Berikan penjelasan secara sederhana dan jujur . Biarkan mereka melihat atau memeluk bayi mereka . Berlakulah bijaksana dan penuh  perhatian .Biarkan orang tua melakukan upacara untuk bayi yang meninggal sesuai dengan adat istiadat atau kepercayaan mereka. Setelah orang tua bayi mulai tenang , bantulah mereka dan perlakuan bayi dengan baik dan penuh pengertian terhadap kesedihan mereka.
i.         Bantu ibu membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian . Ingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan tubuh dan mengganti kain pembalut secara teratur berikan penjelasan perubahan-perubahan yang terjadi pasca persalinan .
j.         Catat semua temuan dan tindakan dengan lengkap dan seksama pada partograf , Kartu Ibu dan Kartu Bayi .
k.       Sebelum meninggalkan ibu , bahaslah semua bahaya potensial dan tanda –tandanya dengan suami dan keluarga . Bahaya potensial dan tanda-tandanya :
1)   Ibu mengalami perdarahan berat
2)   Mengeluarkan gumpalan darah
3)  Pusing
4)  Lemas yang berlebihan
5)  Suhu tubuh ibu > 380C ;
6)  Suhu tubuh bayi < 360C atau  > 37,50C ;
7)  Bayi tidak mau menyusu
8)  Bayi tidak mengeluarkan urine atau mekonium dalam 24 jam pertama
l.         Pastikan bahwa ibu dan keluarganya mengetahui bagaimana dan kapan harus meminta pertolongan.
m.    JANGAN meninggalkan ibu dan bayi sampai mereka dalam keadaan baik dan semua catatan lengkap .Jika ada hal yang mengkhwatirkan pada ibu atau jani , lakukan rujukan kepuskesmas atau dirumah sakit .
CONTOH KASUS:
PENANGANAN PADA DUA JAM PERTAMA SETELAH PERSALINAN
Ny.A melahirkan di BPS pada tanggal 5 januari 2015 jam 14:00 bidan melakukan rawat gabung antara ibu dengan bayi dan pemeriksaan bayi  umur 2 jam serta melakukan pendokumentasian dengan soap.
SOAP
SUBJEKTIF (S)
Keadaan umum baik,  tidak pucat, tidak kedinginan, menangis dengan spontan
OBJEKTIF (O)
1.      Pemeriksaan Umum
a.      Keadaan Umum            : Tidak pucat, tidak kedinginan, menangis dengan spontan
b.      Kesadaran                    : Composmentis
c.      Tanda – tanda Vital     
Nadi                            : 140 x/menit
Respirasi                    : 55x/menit
Suhu                            : 37  ̊C
d.      Kulit                               : kemerahan, licin
e.      Kuku                              : merah muda
f.        Kelenjar getah bening / limfe (palpasi leher atau inguinal ) : tidak terdapat pembesaran.
2.      Pemeriksaan Fisik
a.      Kepala
Rambut             : Ada, bersih
Ubun-ubun       : Datar, tidak ada moulase, tidak terdapat odema
Wajah                : Simetris
Mata                  : Conjungitva merah muda, sclera putih
Telinga              : Simetris, pendengaran baik, lubang telinga lengkap
Hidung              : Simetris, nafasnya teratur, tidak ada secret
Mulut                 : Tidak sumbing, gusi berwarna merah muda
b.    Leher                : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening maupun
 pembesaran limfe, dan pembesaran vena jugularis.
c.       Dada                  : Simetris, tidak terdapat retraksi dinding dada
d.      Payudara          : Simetris, terdapat 2 putting
Bentuk              : Simetris
Benjolan           : Tidak ada
Puting susu       : Menonjol
Pengeluaran     : Tidak ada
Keluhan            : Tidak ada
e.      Abdomen          : Tidak ada perdarahan, tali pusat masih, tidak terdapat
   benjolan
f.        Anus dan rectum : Terdapat lubang
g.      Genetalia               : Terdapat lubang vagina dan lubang  uretra,
h.      Tulang belakang  : Berbentuk lurus dan tidak terdapat spina bifida
i.        Ekstremitas           : Gerakan spontan, gerakan aktif, dan jumlah jari lengkap
3. Pemeriksaan Refleks
Moro                 : (+) baik
Rooting            : (+) baik
Walking             : (+) baik
Graphs              : (+) baik
Sucking            : (+) baik
Toninck eck      : (+) baik
Burning             : (+) baik        
Babinski            : (+) baik
4. Antropometri
BB                      : 3500 gram
PB                      : 43 cm
LK                      : 35 cm
LD                      : 34 cm
Lila                    : 11 cm
 5. Pemeriksaan Penunjang         : Tidak ada
 6. Catatan Medik Lainnya
     a.      Riwayat prenatal
Anak ke           : 1, jumlah saudara hidup 0, jumlah saudara mati 0
Masa kehamilan         : 36 minggu
Riwayat ANC ibu        : teratur 4 kali, di bangsal Anggrek, oleh bidan
Imunisasi TT ibu       : 2 kali
Kenaikan ibu selama hamil : 8 kg
Keluhan ibu selama hamil    : mual dan muntah
   Penyakit ibu selama hamil   : tidak ada
c.      Lahir tanggal                            : 05 januari 203 jam: 14:00 WIB
Jenis persalinan                       : Normal
Penolong kelahiran                 : Bidan Az-Zahra
Lama kelahiran                                    : kala I 8 jam = 480 menit
                                                   : kala II 2 jam = 120 menit
Pelaksanaan IMD                     : Ya, segera setalah lahir 30 menit
Komplikasi                                : Ibu    :tidak ada
                                                   : Janin :tidak ada
Keadaan bayi baru lahir        
BB/PB lahir                              : 3500 gram / 43 cm
Jenis Kelamin                           : Perempuan
Nilai Apgar Score
skor
0
1
2
Angka
Apearence color(warna kulit)
Pucat Tidak ada
Badan merah
Ekstremitas
Biru
Seluruh tubuh kemerahan
2
pulse(hearth rate)(frekuensi jantung)
Tidak ada
Lumpuh
Tidak ada
Dibawah 100
Sedikit gerak mimik
Di atas 100
Menangis
2


2
Grimace (Reaksi terhadap rangsangan)
Esktremitas dalam fleksi
batuk / bersin

Gerakan aktif
1


2
Activity (Tonus otot)
Menangis kuat
Respiration (usaha nafas)
Jumlah
9

Cacat bawaan                           : Terdapat tanda lahir punggung
Resusitasi                                 : Penghisap lendir     : tidak
                                                   : Ambubag                  : tidak
                                                   : Masage jantung       : tidak
Pemberian vitamin K               : ya, jam 15.00 WIB
Riwayat Imunisasi                   : TT 1 : vit K
                                                   : TT 2 : Hb 0
Riwayat Pemberian Vit. A       : Iya    

ANALISA
Bayi Ny.P lahir spontan, cukup bulan sesuai masa kehamilan, keadaan sehat dan normal .
PENATALAKSANAAN
1.      Menjelaskan cara Menjaga kehangatan bayi ; Ibu sudah mengerti  dan akan menghangatkan bayinya.
2.      Menjelaskan cara memakaikan pakaian kepada bayi ; Ibu sudah mengerti dan memahami cara memakaikan pakaian terhadap bayi nya.
3.      Menjelaskan dan mengkomunikasikan tanda-tanda bahaya pada bayi ; Ibu mengerti dan memahami akan tanda-tanda bahaya bayi.
4.      Menjelaskan cara dan tekhnik menyusui yang benar ;  Ibu mengerti dan sudah bisa menyusui anak nya dengan benar.
5.      Pemberian vit.K 1 jam setelah IMD pada jam 15.00 WIB ; Sudah di berikan oleh bidan.
6.      Menjelaskan cara perawatan tali pusat ; Ibu memahami dan akan menerapkannya kepada bayi nya.
7.      Memberikan imunisasi HB 0 ; Sudah di berikan oleh bidan.
8.      Memberikan tetes / salep mata ; Sudah di berikan oleh bidan.
9.      Menjelaskan  mengenai Personal hygiene ; Ibu mengerti dan akan menerapkan pada bayinya .

STANDAR 15
PELAYANAN BAGI IBU DAN BAYI PADA MASA NIFAS
Tujuan
Memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan memberikan penyuluhan ASI eksklusif.

·         Pernyataan standar
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah pada hari ketiga, minggu ke dua dan minggu keenam setelah persalinan,untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui pelaksanaan tali pusat yang benar, penemuan diri, pelaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas; serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.

·         Hasil
Ø  Komplikasi pada masa nifas segera dideteksi dan dirujuk pada masa saat yang tepat.
Ø  Mendukung dan mengan-jurkan pemberian ASI eksklusif.
Ø  Mendukung penggunaan cara tradisional yang berguna dan menganjurkan untuk menghindari kebiasaan yang merugikan.
Ø  Menurunkan kejadian infeksi pada ibu dan bayi.
Ø  Masyarakat semakin menyadari pentingnya keluarga berencana / penjarangan kelahiran.
Ø  Meningkatkan imunisasi pada bayi.
Prasyarat
Ø  Agar persalinan ibu dapat berjalan dengan baik, ibu dan bayi harus mendapatkan pelayanan pasca persalinan dari bidan terlatih sampai 6 minggu setelah persalinan, baik di rumah, puskesmas atau Rumah Sakit.
Ø  Bidan telah dilatih dan terampil dalam:
§  Perawatan nifas termasuk pemeriksaan ibu dan bayi dengan cara yang benar;
§  Membantu ibu untuk memberikan ASI;
§  Mengetahui komplikasi yang dapat terjadi pada ibu dan bayi masa nifas;
§  Penyuluhan dan pelayaanan KB/penjarangan kelahiran,
Ø  Bidan dapat memberikan pelayanan imunisasi atau bekerja sama dengan juru imunisasi di puskesmas atau fasilitas terdekat.
Ø  Tersedia vaksin, alat suntik, tempat penyimpanan vaksin dan pembuangan benda tajam yang memadai.
Ø  Tersedianya tablet besi asam folat.
Ø  Tersedia alat/perlengkapan, misalnya untuk membersihkan tangan, yaitu sabun, air bersih, dan handuk bersih, sarung tangan bersih/ DTT.
Ø  Tersedia kartu pencatatan: Kartu Ibu, Kartu Bayi, Buku KIA.
Ø  Sistem rujukan untuk perawatan komplikasi kegawatdaruratan ibu dan bayi baru lahir yang berjalan dengan baik.




CONTOH KASUS
PELAYANAN BAGI IBU DAN BAYI PADA MASA NIFAS
SOAP
SUBJEKTIF (S)
            Ini merupakan kehamilan yang pertama dan tidak pernah keguguran, hpht tanggal 24 oktober 2014, melahirkan tanggal 28 juli pukul. 08.40 wita, ada pengeluaran darah dari jalan lahir, nyeri pada perineum.
OBJEKTIF (O)
            Keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis, TD 110/70 mmHg, nadi 80 x/I, suhu 36,7oC, P: 22X/I, konjungtiva merah muda,sclera putih, putting susu terbentuk, bayi aktif menyusu, kontraksi uterus baik, TFU 2 jrbpst, tampak pengeluaran lochia rubra, tampak luka jahitan perineum, tidak oedema dan varises pada kedua tungkai, ekspresi wajah tampak meringis sangat bergerak.
ANALISA (A)
Diagnosa                : Postpartum hari pertama
Masalah actual         : Nyeri luka perineum
Masalah potensial   : Antisipasi terjadinya infeksi luka perinem


PENATALAKSANAAN (P)
Ø  Pada kunjungan rumah, sapalah ibu dan suami/keluarganya dengan ramah.
Ø  Tanyakan pada ibu dan suami/keluarganya jika ada masalah atau kekuatiran tentang ibu dan bayinya.
Ø  Cuci tangan sebelum dan sesudah memeriksa ibu dan bayi.
Ø  Pakai sarung tangan DTT/bersih bila melakukan kontak dengan darah atau cairan tubuh.
Ø  Periksa tanda-tanda vital ibu ( suhu tubuh, nadi dan tekanan darah ). Periksa payudara ibu, amati bila putting retak, dan tanda-tanda atau gejala-gejala saluran ASI yang tersumbat atau infeksi payudara. Periksa involusi (pengecian uterus sekitar 2 cm/hari, selama 8 hari pertama). Periksa lochea, yang pada hari ketiga seharusnya mulai berkurang dan berwarna coklat, dan pada hari ke 8-10 menjadi sedikit dan berwarna merah muda. Jika ada kelainan segera rujuk. (lihat daftar bahaya dan tanda-tandanya di akhir standar ini). Jika di curigai sepsis puerpuralis gunakan standar 23. Untuk penanganan perdarahan pasca persalinan gunakan standar 22.
Ø  Tanyakan apakah ibu meminum tablet sesuai ketentuan (sampai 42 hari setelah melahirkan), dan apakah persediaanya cukup.
Ø  Bila ibu menderita anemia semasa hamil atau mengalami perdarahan berat selama proses persalinan, pemeriksaan Hb pada hari ketiga. Nasehati ibu supaya makan makanan bergizi dan berikan tablet tambahan darah.
Ø  Berikan penyuluhan kepada ibu tentang pentingnya menjaga kebersihan diri, memakai pembalut bersih, makanan bergizi, istrahat cukup dan cara merawat bayi.
Ø  Cucilah tangan, lalu periksalah bayi. Periksalah tali pusat pada setiap kali kunjungan (paling sedikit pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam). Tali pusat harus tetap kering. Ibu perlu di beritahu bahayanya membubuhkan sesuatu pada tali pusat bayi, misalnya minyak atau bahan lain. Jika ada kemerahan pada tali pusat, perdarahan atau tercium bau busuk, bayi segera di rujuk.
Ø  Perhatikan kondisi umum bayi, Tanyakan kepada ibu: pemberian AISI, misalnya bayi tidak mau menyusu, waktu jaga, cara bayi menangis, berapa kali buang air kecil, dan bentuk fesesnya.
Ø  Perhatikan warna kulit bayi, apakah ada ikterus atau tidak. Ikterus pada hari ketiga post partum adalah ikterus fisiologis yang tidak memerlukan pengobatan. Namun, bila ikterus terjadi sesudah hari ke tiga/kapan saja, dan bayi malas untuk menyusu dan tampak mengantuk mengantuk, maka bayi harus segera di rujuk ke Rumah Sakit.
Ø  Bicarakan pemberian ASI dan bila mungkin perhatikan apakah bayi menyusu dengan baik (amati apakah ada kesulitan atau masalah).
Ø  Beri nasehat ibu tentang pentingnya pemerian ASI eksklusif sekitar 4 sampai 6 bulan. Bicarakan bahaya pemberian unsure tambahan (susu formula, air atau makanan lain) sebelum bayi berumur 6 bulan.
Ø  Bicarakan tentang KB dan kapan senggama dapat dimulai. Sebaiknya al ini di diskusikan dengan kehadiran suaminya.
Ø  Catat dengan tepat semua yang di temukan.
Ø  Jika ada hl-hal yang tidak normal, segeralah merujuk ibu dan/ atau bayi ke puskesmas /rumah saki.








STANDAR 24
PENANGANAN ASFIKSIA NEONATORUM
Tujuan
Mengenal dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksiaI neonatorumI, mengambil tindakan yang tepat dan melakukan pertolongan kegawatdaruratan bayi baru lahir yang mengalami asfiksia neonatorum.
Pernyataan Standar
Bidan mengenali dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksia, serta melakukan tindakan secepatnya, memulai resusitasi bayi baru lahir, mengusahakan bantuan medis yang diperlukan, merujuk bayi baru lahir dengan tepat, dan memberikan perawatan lanjutan yang tepat.
Hasil
·         Penurunan kematian bayi akibat asfiksia neonatorum.
·         Penurunan kesakitan akibat asfiksia neonatorum.
·         Meningkatnya pemanfaatan bidan.
Prasyarat
1.      Bidan sudah dilatih dengan tepat untuk mendampingi persalian dan memberikan persalinan dan memberikan perawatan bayi baru lahir dan segera.
2.      Ibu, suami dan keluarganya mencari pelayanan kebidanan untuk kelahiran bayi mereka.
3.      Bidan terlatih dan terampil untuk:
a.       Memulai pernapasan pada bayi baru lahir.
b.      Menilai pernapasan yang cukup pada bayi baru lahir dan mengidentifikasi bayi baru lahir yang memerlukan resusitasi;
c.       Menggunakan skor APGAR;
d.      Melakukan resusitasi pada bayi baru lahir.
4.      Tersedia ruang hangat, bersih, dan bebas asap untuk persalinan.
5.      Adanya perlengkapan dan peralatan untuk perawatan yang bersih dan aman bagi bayi baru lahir, seperti air bersih, sabun dan handuk bersih, dua handuk/kain hangat yang bersih (satu untuk mengeringkan bayi, yang lain untuk menyelimuti bayi), sarung tangan bersih dan DTT, thermometer bersih/DTT, dan janin.
6.      Tersedia alat resusitasi dalam keadaan baik termasuk amubag bersih dalam keadaan berfungsi baik, masker DTT, (ukuran 0 dan 1), bola karet penghisap atau penghisap DeLee steril/DTT.
7.      Kartu Ibu, Kartu Bayi dan partograf.
8.      Sistem rujukan untuk perawatan kegawatdaruratan bayi baru lahir yang efektif.
CONTOH KASUS
PENANGANAN ASFIKSIA NEONATORUM
SUBJEKTIF (S)
Hpht tanggal 23 november 2014, tp tanggal 30 agustus 2015, ini merupakan kehamilan yang pertama dan tidak pernah keguguran, ibu rajin memeriksakan kehamilannya di puskesmas dan RS, tidak ada riwayat penyakit selama hamil.
DATA OBJEKTIF (O)                                       
            Bayi lahir tanggal 20 agustus 2015 pkl. 15.30 wita, presentase belakang kepala,lilitan tali pusat 1 kali dengan jenis kelamin perempuan, BB 2900 gram, keadaan umum bayi baik, TTV dalam batas normal, S: 36,7oC, P : 48 x/I, DJA : 148 X/I, refleks menghisap (+), refleks menelan (+), bayi lahir tidak segera menangis, ekstremitas biru, A/S: 6/7, umur kehamilan 39 minggu 4 hari.
ANALISA (A)
BCB/SMK/PBK dengan asfiksia.
PENATALAKSANAAN (P)
1.      Selalu mencuci tangan dan gunakan sarung tangan bersih/DTT sebelum menangani bayi baru lahir.
2.      langkah pada standar 13 untuk perawatan segera setelah bayi baru lahir.
3.      Selalu waspada untuk melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap kelahiran bayi. Siapkan semua peralatan yang di perlukan dalam keadaan bersih, tersedia dan berfungsi dengan baik.
4.      Segera setelah bayi baru lahir, nilai keadaan bayi,  letakkan di perut ibu dan segera keringkan bayi dengan handuk bersih yang hangat. Setelah bayi kering, selimuti bayi termasuk bagian kepalanya dengan handuk baru yang bersih dan hangat.
5.      Nilai bayi dengan cepat untuk memastikan bahwa bayi bernafas/menangis  sebelum nilai APGAR, jika bayi tidak menangis dengan keras, bernafas dengan lemah atau bernafas dengan cepat dan dangkal, pucat atau biru dan/atau lemas.
a.       Baringkan terlentang dengan benar pada permukaan yang datar, kepala sedikit di tengadahkan agar jalan nafas terbuka. Bayi harus di selimuti untuk mencegah hiipotermi pada bayi baru lahir.
b.      Hisap mulut dan kemudian hidung bayi dengan lembut denagn bola penghisap DTT atau penghisap DeLee DTT/steril. (jangan memasukkan alat penghisap terlalu dalam pada kerongkongan bayi. Penghisapan yang terlalu dalam akan menyebabkan bradikardi, denyut jantung yang tidak teratur atau spasme pada laring/tenggorokan bayi).
c.       Berikan stimulasi taktil dengan lembut pada bayi (gosok punggung bayi, atau meneput dengan lembut atau menyentil kaki bayi, keduanya aman dan efektif untuk menstimulasi bayi).
d.      Nilai ulang keadaan bayi. Jika bayi mulai menangis atau bernapas dengan normal, tidak di perlukan tindakan lanjutan dengan perawatan bagi bayi baru lahir yang normal.
e.       Jika bayi tetap tidak bernapas dengan normal (40-60 kali permenit) atau menangis, teruskan dengan ventilasi.
6.      Melakukan ventilasi pada bayi baru lahir sebagai berikut.
a.       Letakkan bayi di permukaan yang datar, di selimuti dengan baik.
b.      Periksa kembali posisi bayi baru lahir. Kepala harus sedikit di tengadahkan .
c.       Pilih masker yang ukurannya sesuai (no.0 untuk bayi yang kecil/ no. 1 untuk bayi yang lahir cukup bulan). Gunakan ambu bag dan masker atau sungkup.
d.      Pasang masker dan periksa perlekatannya. Pada saat di pasang di muka bayi, masker harus menutupi dagu, mulut dan hidung.
e.       Letakkan wajah bayi dan masker.
f.        Remas kantung ambu/ bernafaslash kedalam sungkup.
g.       Periksa perlekatannya dengan cara ventilasi dua kali dan amati apakah dadanya mengembang. Jika dada bayi mengembang mulai ventilasi dengan kecepatan 40 sampai 60 kali/ menit.
h.      Jika dada bayi tidak mengembang:
·         Perbaiki posisi bayi dan tengadahkan kepala lebih jauh.
·         Periksa hidung dan mulut apakah ada darah, mucus atau cairan ketuban, lakukan penghisapan jika perlu.
·         Remas kantu ambu lebih keras untuk meningkatkan tekanan ventilasi.
i.         Ventilasi bayi selama 1 menit, lalu hentikan, nilai dengan cepat apakah bayi bernafas dengan spontan ( 30-60kali/menit) dan tidak ada pelekukan dada atau dengkuran, tidak diperlukan resusitasi lebih lanjut. Teruskan dengan langkah awal perawatan bayi baru lahir.
j.         Jika bayi belum bernafas, atau pernafasannya lemah, teruskan ventilasi. Baah bayi ke rumah sakit atau puskesmas.  Teruskan ventilasi bayi selama perjalanan.
k.       Jika bayi mulai menangis, hentikan ventilasi, amati bayi selama 5 menit. Jika pernapasan sesuai batas normal teruskan dengan langkah awal perawatan bayi baru lahir.
l.         Jika pernapasan bayi kurang dari 30 kali/menit, teruskan ventilasi dan bawah ke tempat rujukan.
m.    Jika terjadi pelekukan dada yang sangat dalam, ventilasi dengan oksigen jika mungkin. Segera bawah bayi ke tempat rujukan, teruskan ventilasi.
7.      Lanjutkan ventilasi sampai tiba di tempat rujukan, atau sampai keadaan bayi membaik.
8.      Kompresi dada:
a.       Jika memungkinkan, dua tenaga kesehatan terampil diperlukan untuk melakukan ventilasi dan kompresi dada.
b.      Kebanyakan bayi akan membaik hanya dengan ventilasi
c.       Jika ada dua tenaga kesehatan terampil,maka dapat melakkan kompresi dada dengan kecepatan 3 kompresi berbanding 1 ventilasi.
d.      Harus berhati-hati saat melakukan kompresi dada, tulang rusuk bayi masih peka dan mudah pata, jantung dan paru-parunya mudah terluka.
e.       Lakukan tekanan pada jantung, dengan cara meletakkan kedua jari tepat di bawah garis putting bayi, di tengah dada. Dengan jari-jari lurus, tekan dada sedalam 1-1,5 cm.
9.      Setelah bayi bernafas normal, periksa suhu. Jika di bawah 36.5̊C, atau punggung sangat dingin, lakukan penghangatan yang memadai, ikuti standar 13.
10.  Perhatikan warna kulit bayi, pernapasan, dan nadi bayi selama 2 jam. Ukur suhu tubuh bayi setiap jam hingga normal (36,5̊C-37.5̊C).
11.  Jika kondisinya memburuk, rujuk ke fasilitas rujukan terdekat, dengan tetap melakukan penghangatan.
12.  Pastikan pemantauan yang sering pada dada bayi selama 24 jam selanjutnya. Jika tanda- tanda kesulitan bernafas kembali terjadi, persiapkan bayi untuk segera dibawah ke rumah sakit.
13.  Ajarkan pada ibu atau suami tentang bahaya dan tanda-tandanya pada bayi baru lahir. Anjurkan untuk memperhatikan bayinya dengan baik.
14.  Catat dengan seksama semua perawatan yang diberikan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar